Brother

Brother
70cm x 90cm
Acrylic on Canvas
2012

Kecil vs Besar


Saat masih kecil, saya berharap ingin cepat menjadi besar
Tapi setelah besar, saya berharap ingin kembali menjadi kecil
Dan merasa, saya butuh doraemon untuk kembali ke masa lalu

Yang Terlupakan #1

Yang Terlupakan #1
40cm x 50cm
Acrylic on Canvas
2013

biru
menyapu kelaku
menipu sendu
memangku pilu

bebas berlayar
tanpa ijin kaisar
tanpa bayar
asal sesuai takar

jangan sampai hilang
laut indah yang malang
karena ditawan dan ditilang
oleh orang-orang jalang

lebih baik merawat laut
daripada belomba kebut
mengharapkan hal yang masih kabut
membuat hidup semaput

Alam dan Melukis

Melukis adalah kegiatan yang menyenangkan dan dapat menimbukan rasa puas yang mendalam.
Kita bisa melukiskan apa yang kita lihat dan apa yang kita alami dan rasakan dalam hidup.
Melukiskan hal yang menurut saya indah dan bagus untuk diabadikan karena hidup dan seisinya ini indah.Tidak perlu pergi ketempat-tempat tertentu untuk mencari objek, kita cukup menengokkan kepala ke kanan, kiri, atas, atau bawah.

Our Country

Our Country
70cm x 90cm
Acrylic on Canvas
2013
  
Pada dasarnya seni rupa juga berfungsi sebagai fungsi sosial, yaitu dengan menggagas perkara sosial yang ada disekitar. Hal ini seharusnya memang sudah harus ada di luar kepala para seniman. Jadi dengan kata lain kita sebagai seniman ikut serta dalam berpendapat, menyinggung persoalan yang ada lewat karya rupa.

Saya memikirkan secara konseptual tentang karya yang hendak dilahirkan. Hasilnya saya melihat begitu banyak perkara sosial yang terjadi di republik ini, khususnya kebijakan pemerintah yang dianggap masyarakat tidak perlu dilakukan, dan belum lagi jika kita melihat sikap atau perilaku menyimpang yang dilakukan oleh sebagian besar wakil rakyat yang sampai saat ini masih belum jelas maksud tujuannya.
Aksi protes rakyat juga telah banyak sekali dilakukan dan banyak juga yang berujung ke tindakan anarkis, karena tidak ada respon positif bagi rakyat.
 

Seperti yang pernah ditulis Kuss Indarto pada salah satu pameran di Jogjakarta, kita diidealkan bekerja dengan 3-H, yaitu Head, Heart, Hand (Kepala, Hati, dan Tangan) dengan memikirkan, merasakan, sampai akhirnya menuangkannya. Sehingga karya yang muncul tidak hanya sekedar sebuah karya seni semata, namun ada sejarah pemikiran sang seniman dalam berkarya dan itu telah menjadi panduan saya selama ini.

“Our Country” bagi saya ini adalah karya liar yang menggambarkan situasi negara kita saat ini. Kebingungan dan kegelisahan yang saya rasakan terhadap apa yang telah terjadi di negeri ini.
Penggambaran kuat lewat penggunaan warna, gelap terang, yang menunjukan adanya kelompok sosial masyarakat yang beraneka ragam dengan budaya dan semua hal yang ada didalamnya. Cipratan spontan dari kuas menegaskan adanya reaksi maupun interaksi yang timbul dan tidak dapat diprediksi akibat adanya bentrokan dari kelompok sosial. Dan semuanya itu digoreskan dengan ekspresif melalui gestur Ekspresionis Abstrak.
Membebaskan imajinasi, membiarkan kuas bergerak bebas, namun tetap tidak mengilangkan nilai estetika. Tetap pada komposisi dan keseimbangan yang membuatnya menjadi satu kesatuan yang indah.

Kami sebagai rakyat Indonesia sangat berharap agar suara kami didengarkan dan bahkan dipertimbangkan, jadi ada kepuasan karena ada kesepakatan yang dicapai.
Kita punya satu tujuan yang sama, yaitu memajukan Indonesia.
Jadi untuk apa kita meributkan hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan?
Lebih baik kita bersatu agar Indonesia menjadi bangsa yang besar, melupakan perbedaan, saling menghargai dan mendengarkan agar semua cita-cita negara dapat tercapai.

Berkali-kali

Beberapa hari, minggu, bulan, tahun yang lalu saya nyoba mencari cari event kegiatan seni rupa, dari mulai pameran sampai kompetisi, di Indonesia maupun luar Indonesia.
Dan akhirnya dapet juga event dan kompetisi yang dicari, dan banyak banget.
akhirnya ya disikat juga, haha mumpung ada.
Waktu proses berkarya, saya merasa bahwa waktu pengumpulan karya untuk diseleksi terlalu pendek, jadi akhirnya ya saya buat aja semampunya. Jadi event lebih banyak dibanding karya yang ada.
Akhirnya satu karya bisa didaftarin ke event lainnya juga, buat event dalam atau luar negeri.
Setelah lama menunggu hasil seleksinya, akhirnya keluar juga pengumumannya. Hasilnya adalah karya saya kebanyakan tidak lolos di event yang ada di Indonesia, tapi di event luar malah masuk semua.
Aneh.
Satu sisi saya berpikir apakah karya saya jelek dan tidak disukai orang orang disini atau karena banyak saingan, tapi satu sisi saya berikir karya saya diluar negeri disukai dan layak. Padahal karya yang dikumpulkan sama, dan konsepnya juga sama.
Sebenarnya ga bingung, eh tapi bingung juga sih.
Pengennya sih karya saya bisa dikenal masyarakat umum, dimana-mana, gausah muluk- muluk, ya minimal orang Indonesia lah haha.
Biar ketika saya nanti telah tiada, ada karya saya yang diingat dan dikenang.
Asik dah.

50:50

The Gold
50cm x 60cm
Mixed Media
2013

Waktu itu hari Selasa, saya sedang berada di studio dengan dua perupa abstrak asal Jakarta (yang tidak mau disebutkan namanya)
Kami ngobrol sambil menikmati kopi panas buatan mbok "J". Setelah mengobrol sampai larut malam, kami bertiga baru ingat kalo akan ada pameran alumni di SMSR Jogja dalam rangka ulang tahun yang ke 50. Kami semua dulu sempat bersekolah disana.

"Kenapa ga gambar sekarang aja?" kata salah satu perupa tua itu.
"Yo ayo wae".
Lalu setelah tengah malam kami mulai berkarya, dan selesai kira-kira jam 7 pagi.

Suatu Hari




Salah seorang kolekter asal Uruguay dan pemandu wisatanya pernah bertanya, "Maksud kamu melukis abstrak seperti itu apa?"
"Jujur, itu pertanyaan yang sangat susah untuk dijelaskan."
"Saya juga tidak tahu kenapa saya membuat lukisan abstrak. Yang saya lakukan hanya merasakan apa yang terjadi disekitar saya, dan meluapkannya ke media kanvas."

Lalu saya lihat dia tersenyum.